Tuesday, July 23, 2013

mengenal IP address v6

kapasitasnya, didasari pada permasalahan diatas maka diciptakanlah sebuah internet protocol baru yang dapat membuka jalan untuk permasalahan yang terjadi.

IP Address Versi 6 yang biasa juga disebut sebagai IPv6 merupakan jenis pengalamatan dalam sebuah jaringan yang digunakan pada protokol jaringan TCP/IP. Untuk panjang total adalah 128-bit dan mampu mengalamati hingga 2128=3,4 x 1038 host komputer di seluruh dunia, sebagai contoh IPv6 adalah
21DA:00D3:0000:2F3B:02AA:00FF:FE28:9C5A

Tidak seperti IPv4 yang hanya memmiliki panjang 32-bit (total alamat yang dapat dicapai adalah 4,294,967,296 alamat), IPv6 memiliki panjang 128-bit yang mecapai 4 miliar alamat, pada kenyataannya tidak sampai 4 miliar alamat yang dihasilkan karena ada beberapa limitasi sehingga implementasinya saat ini hanya mencapai beberapa ratus juta saja.

Sama halnya dengan IPv4, IPv6 juga mengizinkan adanya DHCP Server sebagai pengatur alamat secara otomatis. IPv4 terdapat dynamic address dan static address, maka dalam IPv6 konfigurasi alamatnya menggunakan DHCP Server dinamakan stateful address configuration, sementara jika konfigurasi alamat IPv6 tanpa DHCP Server dinamakan stateless address configuration.

Dalam IPv6, bit-bit pada tingkat tinggi akan digunakan sebagai tanda pengenal jenis alamat IPv6 yang disebut dengan Format Prefix (FP). Dalam IPv6 tidak ada subnet mask, yang ada hanyalah format prefix.

Dalam IPv6, alamat 128-bit dibagi kedalam 8 blok berukuran 16-bit, yang dapat dikonversikan kedalam bilangan heksadesimal berukuran 4-digit. Setiap blok bilangan heksadesimal tersebut akan dipisahkan dengan tanda titik dua (:), olehnya format notasi yang digunakan IPv6 disebut dengan colon-hexadecimal format, sementara IPv4 yang menggunakan dotted-decimal format.

Berikut adalah contoh alamat IPv6 dalam bentuk bilangan biner :
00100001110110100000000011010011000000000000000000101111001110110 000001010101010000000001111111111111110001010001001110001011010

untuk menerjemahkannya kedalam bentuk notasi colon-hexadecimal format, angka-angka biner di atas harus dibagi kedalam 8 buah blok berukuran 16-bit :
0010000111011010 0000000011010011 0000000000000000 0010111100111011 0000001010101010 0000000011111111 1111111000101000 1001110001011010

selanjutnya setiap blok 16-bit harus dikonversikan kedalam bilangan heksadesimal dan setiap bilangan tersebut dipisahkan dengan menggunakan tanda titik dua :
21DA:00D3:0000:2F3B:02AA:00FF:FE28:9C5A

Alamat diatas dapat juga kita sederhanakan dengan membuang angka 0 (nol) pada awal setiap blok yang berukuran 16-bit diatas dengan menyisakan 1 digit terakhir. Berikut hasil penyederhanaan alamat diatas :
21DA:D3:0:2F3B:2AA:FF:FE28:9C5A

Untuk menghindari kebingungan, penyederhanaan alamat IPv6 dengan cara ini sebaiknya hanya digunakan sekali saja untuk setiap alamat, karena kemungkinan nantinya pengguna tidak dapat menentukan berapa banyak bit 0 yang direpresentasikan oleh setiap tanda titik dua (:) yang berada dalam alamat tersebut.



Berikut tabel ilustrasi penyederhanaan alamat IPv6 :
Alamat asli
Alamat asli
yang disederhanakan
Alamat setelah
dikompres
FE80:0000:0000:0000:02AA:
00FF:FE9A:4CA2
FE80:0:0:0:2AA:FF:
FE9A:4CA2
FE80::2AA:FF:FE9A:4CA2
FF02:0000:0000:0000:0000:
0000:0000:0002
FF02:0:0:0:0:0:0:2
FF02::2


Seperti inilah IPv6 cukup rumit bukan tahapan penyederhanaa
URL http://blogberkah.blogspot.com/2012/04/mengenal-internet-protocol-masa-depan.h

Monday, July 22, 2013

mengenal IP Address versi 4 (IPv4)

Mengenal IP Address versi 4 (IPv4)
IP versi 4(IPv4) adalah sebuah jenis pengalamatan jaringan yang digunakan di dalam protokol jaringan TCP/IP dengan protokol IP versi 4. Panjang totalnya adalah 32-bit, dan secara teoritis dapat mengalamati hingga 4 miliar host komputer di seluruh dunia. Contoh alamat IP versi 4 adalah 192.168.0.3. Namun IPv4 ini sudah mulai habis pemakaiannya sehingga tercipta IP versi 6 namun belum begitu dipakai karena IPv4 sendiri belum habis di pakai.
IPv4 terdiri dari 5 kelas, yaitu :
1. Kelas A (1 bit pertama IP Address-nya “0”)
=> Alamat unicast untuk jaringan skala besar. Nomor urut bit tertinggi di dalam alamat IP kelas A selalu diset dengan nilai 0 (nol). Tujuh bit berikutnya—untuk melengkapi oktet pertama—akan membuat sebuah network identifier. 24 bit sisanya (atau tiga oktet terakhir) merepresentasikan host identifier. Ini mengizinkan kelas A memiliki hingga 126 jaringan, dan 16,777,214 host tiap jaringannya. Alamat dengan oktet awal 127 tidak diizinkan, karena digunakan untuk mekanisme Interprocess Communication (IPC) di dalam mesin yang bersangkutan.
2. Kelas B (2 bit pertama IP Address-nya “10”)
=> Alamat unicast untuk jaringan skala menengah hingga skala besar. Dua bit pertama di dalam oktet pertama alamat IP kelas B selalu diset ke bilangan biner 10. 14 bit berikutnya (untuk melengkapi dua oktet pertama), akan membuat sebuah network identifier. 16 bit sisanya (dua oktet terakhir) merepresentasikan host identifier. Kelas B dapat memiliki 16,384 network, dan 65,534 host untuk setiap network-nya.
3. Kelas C (3 bit pertama IP Address-nya “110”)
=> Alamat unicast untuk jaringan skala kecil. Tiga bit pertama di dalam oktet pertama alamat kelas C selalu diset ke nilai biner 110. 21 bit selanjutnya (untuk melengkapi tiga oktet pertama) akan membentuk sebuah network identifier. 8 bit sisanya (sebagai oktet terakhir) akan merepresentasikan host identifier. Ini memungkinkan pembuatan total 2,097,152 buah network, dan 254 host untuk setiap network-nya.
4. Kelas D (4 bit pertama IP Address-nya “1110”)
=> Alamat multicast (bukan alamat unicast). sehingga berbeda dengan tiga kelas di atas. Empat bit pertama di dalam IP kelas D selalu diset ke bilangan biner 1110. 28 bit sisanya digunakan sebagai alamat yang dapat digunakan untuk mengenali host. Untuk lebih jelas mengenal alamat ini, lihat pada bagian Alamat Multicast IPv4.
5. Kelas E (4 bit pertama IP Address-nya “1111”)
=> Umumnya digunakan sebagai alamat percobaan (eksperimen)dan dicadangkan untuk digunakan pada masa depan. Empat bit pertama selalu diset kepada bilangan biner 1111. 28 bit sisanya digunakan sebagai alamat yang dapat digunakan untuk mengenali host.

Aturan dasar dalam menentukan network ID dan host ID yang akan digunakan :
1. Network ID 127.0.0.1 tidak dapat digunakan karena ia secara default digunakan dalam keperluan ‘loop-back’.(‘Loopback’ adalah IP address yang digunakan komputer untuk menunjuk dirinya sendiri).
2. Host ID tidak boleh semua bitnya diset 1 (contoh klas A: 126.255.255.255), karena akan diartikan sebagai alamat broadcast. ID broadcast merupakan alamat yang mewakili seluruh anggota jaringan. Pengiriman paket ke alamat ini akan
menyebabkan paket ini didengarkan oleh seluruh anggota network tersebut.
3. Network ID dan host ID tidak boleh sama dengan 0 (seluruh bit diset 0 seperti 0.0.0.0), karena IP address dengan host ID 0 diartikan sebagai alamat network. Alamat network adalah alamat yang digunakan untuk menunjuk suatu jaringan, dan
tidak menunjukan suatu host.
4. Host ID harus unik dalam suatu network (dalam satu network, tidak boleh ada dua host dengan host ID yang sama). 

cara mengubah bilangan desimal ke bilangan biner

Bilangan desimal adalah sebuah sistem bilangan yang menggunakan 10 (sepuluh macam angka), yaitu dimulai dari angka 0, 1, sampai dengan 9. Setelah angka 9 maka angka yang digunakan adalah 1 0, 1 1 dan seterusnya. Bilangan desimal ini adalah bilangan yang biasa kita gunakan dalam kehidupan kita sehari-hari, jadi saya rasa kita semua sudah faham bagaimana penggunaan bilangan desimal.

Sedangkan bilangan biner adalah sistem bilangan yang hanya mengenal atau menggunakan 2 angka, yaitu angka 0 dan 1. Biasanya angka biner digunakan pada sistem bilangan digital pada komputer. Sebagai contoh, jika terdapat bilangan desimal 12 maka bilangan binernya adalah 1100. Mungkin untul sebagian orang akan sedikit membingungkan mengenai hasil yang didapat. Nah, pada kesempatan ini, saya akan mencoba berbagi Cara Konversi Bilangan Desimal ke Biner.

Untuk melakukan Konversi bilangan desimal ke biner, caranya sangatlah mudah yaitu dengan cara membagi bilangan desimal dengan angka 2 dan sisa dari hasil baginya merupakan bilangan biner.

Diketahui : Bilangan desimal 12
Ditanyakan : Bilangan biner dari angka 12
Jawab :  12 : 2 = 6 sisa 0
               6 : 2 = 3 sisa 0
               3 : 2 = 1 sisa 1
               1 : 2 = 0 sisa 1
Setelah kita lakukan pembagian maka kita tinggal urutkan sisa dari hasil pembagian tersebut dari urutan paling bawah. Jika kita lihat contoh diatas, maka hasil konversi bilangan desimal ke biner dari angka 12 adalah 1100. Gampang kan ?

Sekarang kebalikan dari cara konversi bilangan desimal ke biner, atau cara konversi bilangan biner ke desimal juga caranya relatif mudah juga. Yaitu dengan cara kita mengalikan setiap angka biner dengan angka 2 pangkat n. Huruf di sini adalah mewakili jumlah angka biner yang tersedia dan penghitungan dimulai dari angka paling kanan. Untuk lebih jelas kita lihat contoh berikut :

Diketahui : Bilangan biner 1100
Ditanyakan : Bilangan desimal dari angka 1100
Jawab : 0 x (2 pangkat 0) = 0
            0 x (2 pangkat 1) = 0
            1 x (2 pangkat 2) = 4
            1 x (2 pangkat 3) = 8
Setelah kita ketahui hasil dari pengkalian 2 pangkat maka kita tambahkan hasilnya, jadi 0 + 0 + 4 + 8 = 12. Nah sekarang dapat kita ketahui bahwa hasil konversi dari angka biner 1100 adalah 12

Read more at http://blog-smkmadu.blogspot.com/2012/12/cara-konversi-bilangan-desimal-ke-biner.html#vWoIxsPMj1HWgzMO.99 

cara mengubah bilangan biner ke bilangan desimal

Cara mengubah bilangan biner ke bilangan decimal ngitungnya dari kanan ke kiri, maklum penemunya orang timur tengah sono... 
siapa beliau ?
 
Al Khawarizmi Bapak Matematika, orang barat mengenalnya dengan sebutan (Aljabar)
barat tidak mengenal angka 0 terbukti pada angka rumawi
Oiya kembali lagi ke permasalahan..
INGAT! dari angka biner di atas, urutan yang paling kanan adalah urutan ke 0
Nah sekarang dari biner tersebut yang nilainya adalah 1 (satu) kita kasih perpangkatan atau dua pangkat urutan. PERHATIKAN biner di bawah:
biner : 1 0 1 0 1 1 1 1
urutan: 2
7  25  23222120
Nah dari contoh di atas, biner 0 tidak kita kasih perpangkatan shg skrng kita sudah mendapatkan 27 25 23222120 
2
7 = 128
2
5 =   32
2
3 =     8
2
2 =     4
2
1 =     2
2
0 =     1 +
         175
Jadi biner 10101111 = 175

cara menghitung subnetting IP

Cara Menghitung Subnetting IP .Pada hakekatnya semua pertanyaan tentang subnetting akan berkisar di empat masalah: Jumlah Subnet, Jumlah Host per Subnet, Blok Subnet, dan Alamat Host- Broadcast.
Penulisan IP address umumnya adalah dengan 192.168.1.2. Namun adakalanya ditulis dengan 192.168.1.2/24, apa ini artinya? Artinya bahwa IP address 192.168.1.2 dengan subnet mask 255.255.255.0. Lho kok bisa seperti itu? Ya, /24 diambil dari penghitungan bahwa 24 bit subnet mask diselubung dengan binari 1. Atau dengan kata lain, subnet masknya adalah: 11111111.11111111.11111111.00000000 (255.255.255.0). Konsep ini yang disebut dengan CIDR (Classless Inter-Domain Routing) yang diperkenalkan pertama kali tahun 1992 oleh IEFT.
  •  caramenghitungJumlah subnet . 
Rumusnya itu 2. Hitung deh 2=8 (Jumlah Subnet = 2x, dimana x adalah banyaknya binari 1 pada oktet terakhir subnet mask )
  • Selanjutnya , jumlah host subnet
Rumusnya 2 y – 2 . Hitung deh 213 – 2 = 8192-2 = 8190 : 256 = 32 (dimana y adalah adalah kebalikan dari x yaitu banyaknya binari 0 pada oktet terakhir subnet.)
  • Jumlah block subnet
  • Bagaimana dengan alamat host dan broadcast yang valid? Kita langsung buat tabelnya. Sebagai catatan, host pertama adalah 1 angka setelah subnet, dan broadcast adalah 1 angka sebelum subnet berikutnya.
  • Subnet173.0.0.0173.0.32.0173.0.224.0
    Host  1173.0.0.1173.0.32.1173.0.224.1
    Host  2173.0.0.2173.0.32.2173.0.224.2
    Host akhir173.0.30.254173.0.62.254173.0.254.254
    Broadcast173.0.31.255173.0.63.255173.0.255.255
    Host 1                                   host 2                                      host 8
Jadi , 256-224=(nilai oktet terakhir subnet mask) = 32. Subnet berikutnya adalah 32 + 32 = 64, dan 64 + 32 =96, dan seterusnya. Jadi subnet lengkapnya adalah (0,32,64,96,128,160,192,224)